You are currently viewing Simulasi Demonstrasi: Cara Seru Belajar Demokrasi

Simulasi Demonstrasi: Cara Seru Belajar Demokrasi

Garut, 20 September 2025

MA Persis Tarogong menggelar simulasi demonstrasi sebagai puncak kegiatan kokurikuler bertema “Berani Berpendapat, Cerdas Berdemokrasi” yang diikuti oleh santri kelas 10 hingga 12. Program ini berlangsung selama dua pekan, dimulai dengan pembentukan kelompok pada 5 September, dilanjutkan kolaborasi antarmata pelajaran pada 8–13 September, hingga puncak simulasi yang digelar hari ini. Kegiatan dilaksanakan terpisah, yakni untuk santri putra bertempat di Aula Syihabuddin, sementara santri putri di Lapang Asrama Putri.

Melalui simulasi, santri belajar menyampaikan aspirasi dengan cara yang tertib, damai, dan beretika, sekaligus memahami peran legislatif dan eksekutif dalam sistem pemerintahan. Ketua Pelaksana, Ibu Iis Latifah, S.E., menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan sekadar simulasi, melainkan juga sarana edukasi. “Kegiatan simulasi ini untuk memberikan edukasi cara berdemokrasi yang benar. Inspirasi kegiatan ini datang dari demonstrasi yang baru-baru ini terjadi di Indonesia,” ujarnya.

Kegiatan ini dirancang untuk menguatkan profil lulusan dengan lima dimensi utama, yaitu kewargaan, komunikasi, kreatif, bernalar kritis, dan kolaborasi. Kelima dimensi ini merupakan bagian dari delapan dimensi profil lulusan yang menjadi tujuan kokurikuler, yakni mendukung tercapainya capaian pengetahuan, keterampilan, dan karakter secara nyata serta kontekstual melalui pengalaman belajar yang bermakna. Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya mengasah kemampuan akademik dan sosial santri, tetapi juga menumbuhkembangkan kepemimpinan yang efektif, berintegritas, profesional, dan transformatif sebagaimana amanat dari delapan dimensi profil lulusan.

Sebelum pelaksanaan simulasi, kegiatan kokurikuler ini melalui beberapa tahapan penting. Tahap pertama, pada Jumat, 5 September 2025, dilakukan pembentukan kelompok dan pemilihan tema demonstrasi. Setiap kelas memilih isu aktual yang berbeda, mulai dari pendidikan, sosial, lingkungan, kesehatan, politik, hukum, hingga ekonomi dan teknologi. Setelah itu, santri dibagi menjadi empat kelompok dengan peran yang beragam: massa demonstran, DPR legislatif, eksekutif pemerintah, serta pembuat atribut demonstrasi.

Tahap kedua berlangsung pada 8–13 September 2025, yaitu kolaborasi antarmata pelajaran. Guru PKn membimbing pemahaman dasar hukum dan etika demonstrasi, guru Bahasa Indonesia melatih keterampilan membuat orasi persuasif, sedangkan guru TIK membantu santri melakukan riset data serta merancang poster dan spanduk digital. Pada tahap ini, setiap kelompok mengasah perannya masing-masing: massa demonstran menyiapkan tuntutan dan orasi, DPR merancang tanggapan serta melatih debat, eksekutif pemerintah menyiapkan solusi kebijakan, sementara pembuat atribut mendesain media visual yang efektif dan komunikatif.

Beberapa santri yang mengikuti kegiatan ini mengungkapkan kesannya. Mereka menilai simulasi demokrasi terasa seru dan menantang, karena harus berperan sesuai kelompok masing-masing, mulai dari menyusun orasi, bernegosiasi, hingga membuat atribut demonstrasi. Tantangan itu justru menjadi pengalaman baru yang menyenangkan sekaligus menambah wawasan tentang cara berdemokrasi yang benar.

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan