You are currently viewing Menumbuhkan Kepercayaan Diri dan Daya Bicara Santri

Menumbuhkan Kepercayaan Diri dan Daya Bicara Santri

Kepercayaan diri dan kemampuan menyampaikan gagasan merupakan bekal penting bagi santri dalam menghadapi tantangan akademik maupun sosial. Berangkat dari kesadaran tersebut, UGM (Ummahatul Ghad Mu’allimin) menyelenggarakan Seminar Public Speaking dengan tema “Menyusun Kata dengan Tepat, Menyampaikan Pesan dengan Percaya Diri” pada Senin, 26 Januari 2026, bertempat di Aula Multimedia MA Persis Tarogong. Kegiatan ini menjadi wadah pengembangan diri santri melalui ruang belajar sekaligus latihan untuk mengasah keberanian, keterampilan komunikasi, serta potensi diri. Seminar diikuti oleh delegasi peserta dari setiap kelas serta tamu undangan dari Pesantren Idzarulhaq.

Lebih dari sekadar seminar, kegiatan ini dirancang sebagai langkah awal bagi santri untuk berani menyampaikan gagasan secara santun, bertanggung jawab, dan penuh keyakinan. Fokus utama kegiatan ini adalah menanamkan pemahaman bahwa public speaking bukan semata kemampuan berbicara di depan banyak orang, melainkan keterampilan menyampaikan pesan dengan benar, jelas, dan berdampak.

Menanamkan Kesadaran akan Pentingnya Public Speaking

Pesan tersebut sejalan dengan sambutan Ketua UGM, Shabria Putri Izzati Ramadhani, yang menegaskan, “Public speaking bukan soal siapa yang paling banyak berbicara, tetapi siapa yang berani menyampaikan ide, pendapat, dan pikirannya dengan santun, jelas, dan penuh tanggung jawab.” Senada dengan hal tersebut, Ketua Pelaksana, Queeny Bilqis Wulandari, menyampaikan bahwa kemampuan berbicara merupakan kebutuhan dasar seorang pelajar. “Tak apa perlahan, tapi pasti,” ujarnya, menekankan pentingnya proses berkelanjutan dalam mengasah keterampilan komunikasi.

Kemampuan berbicara dinilai memiliki peran besar dalam membangun relasi, menumbuhkan rasa percaya diri, serta mencerminkan kualitas kepemimpinan seseorang. Berbicara bukan sekadar mengucapkan kata, melainkan bagaimana pesan mampu menyentuh dan memberi pengaruh positif bagi pendengar.

Public Speaking dalam Perspektif Nilai Islam

Kegiatan ini secara resmi dibuka oleh Ust. Aan Adam, Lc., Kepala MA Persis Tarogong, yang mengingatkan pentingnya adab dalam berbicara sebagaimana perintah Al-Qur’an untuk menyampaikan qaulan sadīdan, yakni perkataan yang benar dan baik. Selain itu, turut disinggung pula beberapa konsep komunikasi dalam Al-Qur’an, seperti qaulan ma‘rūfan, qaulan karīman, dan qaulan balīghan, sebagai landasan etika berbicara dalam kehidupan sehari-hari.

Strategi Mengatasi Takut dan Berbicara Berdampak

Pemateri seminar, Alan Albana, M.I.Kom, mengawali sesi dengan mengajak peserta mengenali akar ketakutan saat berbicara di depan umum. Rasa gugup, takut salah, hingga gemetar dipaparkan sebagai hal yang wajar, terutama bagi mereka yang belum terbiasa. Menurutnya, ketakutan tersebut bukan untuk dihindari, melainkan dipahami dan dikelola secara tepat.

Dalam materi inti, pemateri memperkenalkan Strategi 3P: Perception, Preparation, dan Practice. Pada aspek persepsi, santri diajak meninggalkan tuntutan untuk tampil sempurna dan mulai berfokus pada proses. Setiap persiapan kecil diibaratkan sebagai potongan puzzle yang, jika disusun dengan baik, akan membentuk penampilan utuh saat berbicara.

Pada tahap persiapan, peserta dikenalkan pada konsep 3V (Visual, Vocal, dan Verbal). Visual menekankan pentingnya bahasa tubuh, kontak mata, dan ekspresi wajah. Vocal mengajarkan pengelolaan intonasi serta variasi nada suara agar pesan tidak terdengar datar. Sementara itu, verbal menekankan pemilihan kata yang tepat dan sesuai dengan karakter audiens. Ketiga unsur tersebut menjadi kunci agar pesan dapat tersampaikan secara efektif.

Tahap terakhir adalah praktik. Peserta didorong untuk berani mencoba dengan prinsip bahwa tidak ada kegagalan, melainkan proses belajar. Struktur berbicara sederhana diperkenalkan, mulai dari pembukaan yang mampu menarik perhatian, penyampaian isi secara runtut, hingga penutup yang berkesan. Melalui latihan yang berkelanjutan, santri diharapkan mampu menerapkan ilmu yang diperoleh, baik dalam kegiatan pembelajaran maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan