Di tengah derasnya arus perubahan zaman, MA Persis Tarogong terus menegaskan perannya sebagai pusat pembinaan iman, akhlak, dan kepemimpinan. Komitmen itu kembali diwujudkan melalui kegiatan Du’at Camp bertema “Muslim on Progress: Berkembang Tanpa Kehilangan Nilai” yang dilaksanakan di kawasan Edu Wisata Perlebahan Gunung Guntur.
Kegiatan ini diikuti oleh seluruh santri kelas 10 dan dilaksanakan terpisah: santri putri pada 7–8 Februari 2026 serta santri putra pada 14–15 Februari 2026. Du’at Camp menjadi ruang kaderisasi dakwah yang dirancang secara kolaboratif oleh Kesantrian, Humas, wali kelas 10, serta Staf Pengurus RGM dan UGM.
Menyambut Ramadhan dengan Mental dan Iman yang Kokoh
Du’at Camp digelar sebagai ikhtiar mempersiapkan keimanan dan mental santri dalam menyambut bulan suci Ramadhan. Lebih dari sekadar agenda luar ruang, kegiatan ini diarahkan untuk menumbuhkan kedisiplinan, mempererat kebersamaan, serta membangun komitmen ibadah, terutama dalam menjaga shalat dan adab.
Melalui rangkaian perkemahan, seminar, game edukatif, pos-posan, mentoring, dan bimbingan ibadah, para santri ditempa secara menyeluruh. Alam menjadi ruang refleksi, kebersamaan menjadi sarana penguatan ukhuwah, dan materi menjadi bekal perjuangan.
Dakwah adalah Tanggung Jawab Bersama: Setiap Peran, Setiap Lisan, Setiap Kesempatan
Dakwah bukan hanya tugas mereka yang berdiri di mimbar. Ia adalah tanggung jawab bersama setiap Muslim, dengan perannya masing-masing, memiliki andil dalam menyampaikan kebaikan. Kesadaran inilah yang ditekankan dalam sesi pembekalan public speaking pada Du’at Camp.
Pada sesi santri putri, Anggi Rahmayani, S.Pd. mengurai bahwa kemampuan berbicara di depan umum bukan sekadar keterampilan teknis, melainkan amanah. Dakwah menuntut kesiapan. Santri dibimbing untuk mengenali audiens agar pesan tepat sasaran, menyusun poin materi secara terstruktur agar pembicaraan terarah, serta membangun interaksi yang hidup agar komunikasi tidak berjalan satu arah.
Mereka juga dilatih mengatur intonasi dan volume suara, mengelola waktu, serta menumbuhkan rasa percaya diri. Ditekankan dengan tegas: penguasaan materi dan keberanian adalah fondasi utama. Kebenaran isi harus diiringi dengan ketepatan cara penyampaian. Dakwah tidak cukup benar, tetapi juga harus baik dan bijak dalam penyampaiannya.
Pada sesi santri putra, Kholid Barkah memperluas perspektif bahwa setiap remaja memiliki ruang dakwahnya sendiri, di kelas, di lingkungan pertemanan, di masyarakat, bahkan di ruang digital. Karena itu, kemampuan berbicara menjadi bentuk tanggung jawab. Seorang da’i muda harus mampu membaca situasi audiens, menjaga kontak mata, menggunakan bahasa tubuh yang tepat, serta menghadirkan komunikasi yang hidup dan menyentuh.
Latihan menjadi kunci yang tak bisa ditawar. Keberanian tidak lahir dari teori, tetapi dari pembiasaan. Presentasi, diskusi, menjadi MC, atau sekadar menyampaikan pendapat adalah ladang latihan yang membentuk mental tangguh.
Dari sesi ini, para santri memahami bahwa dakwah bukan monopoli satu peran. Ia adalah tugas bersama, yang berbicara di depan, yang menulis, yang memberi teladan melalui sikap, bahkan yang menjaga adab dalam keseharian. Setiap lisan adalah amanah. Setiap kesempatan adalah panggung dakwah.
Shalat: Pondasi Kemajuan Seorang Muslim
Dimensi ruhiyah menjadi titik tekan utama. Pada sesi santri putri, Dewi Rachmawati, S.Pd. mengingatkan kembali sejarah shalat dari peristiwa Isra Mi’raj, dari 50 waktu menjadi 5 waktu, namun tetap bernilai besar di sisi Allah.
Beliau menegaskan bahwa ukuran keberhasilan shalat bukan sekadar pelaksanaan, melainkan dampaknya, yaitu mampu mencegah perbuatan keji dan mungkar serta menghadirkan ketenangan. Shalat juga menjadi amalan pertama yang dihisab di akhirat. Penyebab lemahnya dampak shalat seringkali karena kurangnya pemahaman terhadap bacaan dan maknanya.
Pada sesi santri putra, H. Deni Mardiana, Lc. menekankan urgensi shalat sebagai kebutuhan hidup, bukan sekadar kewajiban. Shalat melatih disiplin waktu, membentuk tanggung jawab, serta menjadi jeda untuk menata orientasi hidup. Generasi Muslim yang maju bukanlah yang meninggalkan nilai agama, melainkan yang menjadikan shalat sebagai pondasi kemajuan.
Berkembang Tanpa Kehilangan Nilai
Du’at Camp menegaskan satu arah pembinaan: kemajuan dan nilai tidak boleh dipertentangkan. Seorang Muslim harus berkembang menjadi cerdas, komunikatif, percaya diri namun tetap kokoh dalam syariat dan akhlak.
Di bawah langit Gunung Guntur, para santri tidak hanya belajar berbicara, tetapi belajar memaknai tanggung jawab dakwah. Tidak hanya berkemah, tetapi berlatih disiplin. Tidak sekadar mengikuti kegiatan, tetapi ditempa menjadi generasi yang siap menyambut Ramadhan dengan iman yang lebih matang.
Du’at Camp bukan hanya kegiatan, melainkan proses pembentukan. Dari alam, lahir kesadaran. Dari kebersamaan, tumbuh kekuatan. Dari nilai, terbangun kemajuan.
Muslim on Progress, berkembang tanpa kehilangan nilai.




Leave a Reply