KOLEGA 76: Dari Cinta Menuju Harapan
Ikhtiar kakak kelas dan alumni Persis Tarogong menyiapkan langkah adik-adiknya selepas Mu’allimin.
Di pesantren, cinta bukan sekadar rasa, ia adalah tanggung jawab. Ia hadir dalam bentuk nasihat, teladan, dan ikhtiar nyata. Semangat inilah yang mengalir kuat dalam pelaksanaan KOLEGA 76 di MA Persis Tarogong Garut, Senin–Selasa (12–13 Januari 2026). Digagas oleh para alumni MA Persis Tarogong, kegiatan ini menjadi wujud kepedulian tulus untuk menyiapkan langkah santri kelas akhir selepas Mu’allimin, agar mereka tidak berjalan sendiri menghadapi masa depan. mengubah cinta menjadi harapan yang terarah.
Mengusung tema “Ngaronjatkeun Diri, Ngudang Impian”, KOLEGA 76 dirancang sebagai ruang refleksi dan penguatan mental bagi santri kelas 12. Melalui rangkaian kegiatan edukatif dan aplikatif, santri diajak menyadari bahwa setiap pilihan hari ini akan memberi dampak besar bagi masa depan. Di titik transisi ini, alumni hadir bukan sebagai pengarah tunggal, tetapi sebagai penuntun yang berbagi pengalaman, membuka wawasan, dan menguatkan keyakinan.
Hari pertama diawali dengan talk show inspiratif di Aula Syihabudin Persis Tarogong. Dua narasumber muda, Kak Siti Salwa Mumtazaydah, B.A., alumni sekaligus runner-up Mahasiswa Berprestasi Sakarya, Turki 2024, dan Kak Zoelva Miftahurridho, S.K.H., alumni yang kini sedang menempuh studi pascasarjana di IPB University, berbagi kisah perjalanan akademik dan karier. Dalam forum bertema “Menemukan Jalan Karier Melalui Pendidikan dan Mindset Positif”, keduanya menekankan pentingnya perencanaan, keteguhan niat, serta kesiapan mental dalam menapaki jalan masing-masing. Bagi santri, cerita alumni terasa dekat karena mereka pernah berdiri di titik yang sama.
Rangkaian hari pertama dilanjutkan dengan sharing session dalam kelompok kecil bersama para mentor yang juga alumnni. Di sinilah cinta tersebut terasa paling personal. Santri diberi ruang untuk menyampaikan keresahan, mimpi, dan rencana masa depan. Diskusi berlangsung hangat dan reflektif, membantu santri mengenali potensi diri sekaligus memantapkan arah langkah setelah lulus.
Pada hari kedua, semangat kepedulian berlanjut melalui workshop kewirausahaan bersama Kak Raisa Nur Aminah, A.Md.Par., founder Mirbai Cakes dan alumni MA Persis Tarogong. Dengan pendekatan aplikatif, peserta diperkenalkan pada proses membangun usaha dari dasar, mulai dari menemukan ide, memahami kebutuhan pasar, hingga strategi branding dan pemasaran awal. Workshop ini membuka pandangan bahwa masa depan tidak selalu satu arah; wirausaha pun dapat menjadi jalan ikhtiar yang bernilai dan bermakna.

Masih di hari yang sama, Campus Expo menjadi jembatan antara pesantren dan dunia perguruan tinggi. Berbagai perguruan tinggi dan paguyuban mahasiswa hadir memberikan informasi seputar jurusan, lingkungan kampus, prospek karier, hingga peluang beasiswa. Santri dapat berdialog langsung, menggali informasi, dan menimbang pilihan pendidikan dengan lebih matang. Dari aula syihabuddin, harapan mulai menemukan bentuknya.
Kemeriahan KOLEGA 76 juga diwarnai oleh rangkaian perlombaan daring, mulai dari lomba orasi ilmiah, esai, poster digital, video motivasi dan edukasi, hingga e-sports. Perlombaan ini menjadi wadah bagi santri untuk menyalurkan bakat, melatih daya kritis, kreativitas, dan sportivitas. Karya yang dikumpulkan sejak 1–7 Januari diumumkan pada puncak acara, 13 Januari 2026, menandai apresiasi atas proses dan keberanian berekspresi.
Kegiatan ini terselenggara atas kolaborasi Ikatan Alumni Persis Tarogong angkatan 39 dan 40 sebagai panitia pelaksana. Dalam sambutannya, Ketua Pelaksana, Triana Rizkia Nur menyampaikan bahwa KOLEGA 76 lahir dari rasa peduli kakak kelas agar adik-adiknya memiliki bekal sebelum melangkah keluar dari pesantren. Sementara itu, H. Aan Adam, Lc., Kepala MA Persis Tarogong, secara resmi membuka acara dengan pesan agar santri berani bermimpi, bersungguh-sungguh berikhtiar, dan bertanggung jawab atas pilihan hidup yang diambil.
KOLEGA 76 menegaskan satu hal penting, Pesanten Persis Tarogong tidak pernah melepas santrinya tanpa bekal. Dari cinta alumni, tumbuh harapan bagi adik-adiknya, harapan agar mereka melangkah dengan yakin, berilmu, dan berakhlak. Dari pesantren, cinta itu diarahkan, dan dari sana pula harapan masa depan mulai ditumbuhkan.


Leave a Reply