GARUT – Di tengah sejuknya suasana Hortensia Garden, Cilawu, ratusan santri kelas XI MA Persis Tarogong menempuh perjalanan batin yang mendalam melalui agenda ESQ Camp 2026. Kegiatan ini terbagi dalam dua gelombang: santri putra pada 10–11 April, disusul santri putri pada 17–18 April.
Bukan sekadar kemah biasa, gelaran bertajuk “Upgrade Diri: Dari Hati yang Tertata ke Aksi yang Bermakna” ini dirancang sebagai momentum bagi para santri untuk melakukan jeda sejenak dari rutinitas akademik guna menata ulang arah hidup.
Menanam Adab, Menjaga Lisan
Sesi materi menjadi fondasi perubahan. Bagi santri putra, Ust. H. Dadang Hermawan menekankan urgensi menjaga lisan. Ia mengingatkan bahwa setiap kata adalah cerminan iman yang mampu menjadi jalan menuju surga sekaligus penyelamat dari siksa neraka.
Sementara itu, di hadapan santri putri, Teh Hasnaa Hashunatulamar’ah membedah adab sebagai akar perilaku. Mengutip pemikiran Ibnu Qayyim, ia menegaskan bahwa perubahan karakter harus dimulai dari kesadaran psikologis dan latihan konsisten, mulai dari hal sederhana seperti senyum, salam, hingga dzikir.
Resiliensi dan Kecerdasan Emosional
Memasuki fase refleksi, Ust. Dr. Daris Tamin, M.Pd. membekali santri putra tentang pentingnya dukungan sosial (support system). Ia menekankan bahwa ikatan kuat dengan Allah, keluarga, dan sahabat adalah kunci utama dalam menghadapi ujian hidup.
Di sisi lain, Bapak Asep Ridwan Saleh, M.Pd.I. membekali santri putri dengan kecerdasan emosional (Emotional Quotient). Baginya, kedewasaan bukan tentang apa yang dirasakan, melainkan bagaimana seseorang mampu mengendalikan respons dan sikap dalam berbagai situasi sulit.
Menjadi “Ragi” Perubahan
Nuansa spiritualitas semakin kental dengan rangkaian ibadah mulai dari shalat berjamaah, tahajud, hingga dzikir. Tak ketinggalan, malam kebersamaan dalam pentas seni menjadi wadah ekspresi kreativitas santri.
Kepala MA Persis Tarogong, Ust. H. Aan Adam, Lc., dalam sambutannya memberikan pesan filosofis yang mendalam. Ia berharap kegiatan ini mampu memberikan dampak yang luas bagi santri. “Semoga kegiatan ini menjadi ragi—meski sedikit, tapi berdampak,” harapnya.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Pelaksana, Ilham Maulana, S.Si., menyimpulkan bahwa seluruh rangkaian ini adalah simulasi nyata bagi masa depan santri. “ESQ Camp adalah cara kita belajar hidup,” pungkasnya singkat.
Melalui ESQ Camp, MA Persis Tarogong berupaya memastikan bahwa ketika hati para santri telah tertata, maka setiap tindakan yang mereka ambil di masa depan akan memiliki makna dan kebermanfaatan bagi umat.

