Satu Frekuensi Menjemput Mimpi: MA Persis Tarogong Perkuat Sinergi dengan Wali Santri Kelas XI
GARUT – Dalam rangka menyambut fase krusial perpindahan jenjang dari kelas XI ke kelas XII, MA Persis Tarogong sukses menyelenggarakan kegiatan Silaturahmi & Edukasi Wali Santri Kelas XI. Acara tersebut dilaksanakan pada Sabtu, 2 Mei 2026, bertempat di Aula Syihabuddin dengan mengusung tema “Satu Frekuensi Menjemput Mimpi: Sinergi Harapan dan Realita untuk Kesuksesan Santri”.
Kegiatan ini bertujuan untuk membangun kesepahaman antara madrasah, santri, dan orang tua. Sinergi ini dianggap vital agar tidak terjadi perbedaan ekspektasi yang dapat menghambat motivasi belajar, terutama saat menghadapi padatnya agenda akademik dan persiapan menuju perguruan tinggi di masa mendatang.
Konsep 3T: Tarbiyah, Ta’lim, dan Ta’dib
Dalam sesi edukasi yang menjadi inti acara, Ust. H. Tatan Ahmad Santana memberikan pemaparan mendalam mengenai hakikat pendidikan. Beliau menekankan bahwa anak adalah titipan Allah SWT, sehingga proses pendidikannya harus dikembalikan pada kehendak Sang Pencipta, bukan sekadar memuaskan keinginan orang tua atau ambisi pribadi semata.
Beliau membedah konsep 3T sebagai pilar utama dalam mendidik santri:
- Tarbiyah (Pengembangan Potensi): Orang tua dan madrasah harus berperan sebagai fasilitator yang mengenali dan menumbuhkan bakat unik setiap santri. Pendidikan tidak boleh bersifat memaksa, melainkan membimbing melalui dialog dan musyawarah agar potensi fitrah anak berkembang optimal.
- Ta’lim (Transfer Ilmu): Proses ini mencakup penguasaan ilmu pengetahuan secara komprehensif. Beliau membaginya menjadi dua prioritas: penguatan ilmu agama (fardu ain) sebagai fondasi karakter, dan penguasaan ilmu pengetahuan umum (fardu kifayah) untuk membekali mereka menghadapi tantangan dunia profesional.
- Ta’dib (Pembentukan Adab): Inilah puncak dari pendidikan. Penanaman adab dan akhlakul karimah harus didahulukan sebelum ilmu. Beliau menegaskan bahwa kunci utama dari ta’dib adalah keteladanan dari orang tua dan guru, bukan sekadar nasihat lisan.
“Didiklah anak bukan sesuai keinginan kita atau mereka, tetapi sesuai apa yang Allah kehendaki. Bangunlah komunikasi yang hangat dan jadilah teladan dalam ibadah serta kebiasaan baik di rumah,” tegas Ust. Tatan.
Beliau juga menyoroti pentingnya membangun budaya literasi di lingkungan keluarga. Menurutnya, kegemaran membaca bukan sekadar hobi, melainkan dasar bagi santri untuk berpikir kritis dan memiliki wawasan yang luas. Tujuan akhirnya adalah membentuk generasi yang bukan hanya cerdas, tetapi juga bermanfaat, beradab, dan menjadi kebanggaan (zinatun hayat) bagi orang tua serta umat.
Kesiapan Menghadapi Kelas XII
Sementara itu, Waka Kurikulum MA Persis Tarogong, Ust. Yasir Nurdin, S.Pd.I., memberikan gambaran teknis mengenai tantangan di kelas XII. Ia menjelaskan bahwa berbagai program—seperti Karya Tulis Ilmiah Santri, Tryout, Pemantapan, PLKJ, hingga serangkaian ujian akhir—dirancang bukan untuk membebani.
“Program-program ini bukan untuk menyulitkan, tetapi untuk menyiapkan mereka agar bukan hanya tuntas, melainkan benar-benar sukses,” tegasnya. Rangkaian program tersebut ditujukan untuk melatih kesiapan, kemandirian, dan kemampuan berpikir kritis. Beliau menekankan pentingnya peran orang tua dalam menyamakan persepsi, serta mendorong santri untuk mempersiapkan diri sejak dini melalui ketakwaan, kesungguhan, dan pembiasaan kebaikan.
Membentuk Karakter Ibadur Rahman
Kepala MA Persis Tarogong, Ust. H. Aan Adam, Lc., menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk tanggung jawab madrasah kepada orang tua yang telah mempercayakan pendidikan putra-putrinya.
“Cita-cita kami adalah membentuk Ibadur Rahman sebagaimana dalam QS. Al-Furqan, melalui program-program yang menekankan pada ketaatan ibadah, kedisiplinan, serta kepedulian terhadap akhlak, kebersihan, dan kerapihan,” jelasnya.
Beliau berharap sinergi yang kuat dengan orang tua dapat terus terjalin. Beliau juga menekankan bahwa di tengah tantangan generasi saat ini, madrasah menjadikan ta’dib (pembentukan adab) sebagai prioritas utama. Kebijakan disiplin, seperti penutupan gerbang pukul 06.30, menjadi langkah tegas yang terbukti efektif untuk melatih kedisiplinan santri.
Apresiasi atas terselenggaranya ruang komunikasi ini turut disampaikan oleh Ketua Komite MA Persis Tarogong, Bpk. Ir. Wawan Kurnia. Beliau menegaskan bahwa tujuan pendidikan bukan sekadar pencapaian nilai rapor. “Kita semua tentu menginginkan anak-anak menjadi pribadi yang berhasil dunia dan akhirat; berhasil secara akademik dan kelak menghantarkan kita berkumpul kembali di surga Allah SWT,” ungkapnya.
Menutup rangkaian acara, PMA Bidang Pendidikan Pesantren Persis Tarogong, Ust. Heri Mulyadi, S.H.I., M.Pd. mengingatkan bahwa keberhasilan pendidikan adalah amal jama’i (kerja bersama) antara keluarga, masyarakat, dan sekolah yang kini diperluas dengan peran dunia digital.
“Pendidikan itu bukan hanya soal kecerdasan, tetapi bagaimana membentuk manusia yang dekat kepada Allah dan berakhlak mulia,” paparnya. Tujuan utama pendidikan Islam adalah membentuk pribadi yang memahami agama (tafaqquh fiddin) dan menguasai IPTEK. Menurutnya, hal tersebut hanya dapat terwujud jika nilai-nilai kebaikan dari pesantren dan rumah bisa berkolaborasi secara erat dalam keseharian santri.

