· · ·

Kang Abik, Ayat-Ayat Cinta 3, dan Keresahan Palestina

“Ayo, tembakkan seluruh peluru kalian ke dadaku, dan ke dada anak-anak Palestina! Maka, kalian akan kalah bersama keputusasaan, dan kami akan menang bersama keyakinan!”

GARUT — Penggalan puisi karya novelis kenamaan Indonesia, Dr. phil. Habiburrahman El Shirazy, Lc., M.A. (Kang Abik), tersebut menggambarkan keberanian dan keyakinan di tengah penderitaan rakyat Palestina. Puisi bertajuk Tantangan si Kecil Muhammad Ad-Durrah kepada Seluruh Tentara Israel Sedetik Sebelum Ajalnya Datang Menjelang itu menjadi pengantar untuk memahami bagaimana karya sastra dapat menjadi medium menyuarakan kepedulian terhadap tragedi kemanusiaan.

Semangat tersebut mengemuka dalam kegiatan bedah novel Ayat-Ayat Cinta 3: Cintaku di Gaza yang diselenggarakan MA Persis Tarogong di Aula Syihabuddin Persis Tarogong, Sabtu (17/10/2026). Kegiatan ini diikuti lebih dari 400 peserta, terdiri atas santri kelas X, XI, dan XII, asatidzah, serta tamu undangan.

Dalam sesi yang dipandu Ilham Maulana tersebut, Kang Abik membagikan proses kreatif di balik penulisan novel terbarunya sekaligus mengajak peserta melihat sastra sebagai salah satu sarana menyuarakan kepedulian terhadap Palestina.

Dari Amerika Serikat ke Gaza

Kang Abik mengungkapkan bahwa naskah Ayat-Ayat Cinta 3 sebenarnya telah selesai ditulis dengan latar Amerika Serikat. Dalam rancangan awal tersebut, Fahri dikisahkan menjadi guru besar setelah perjalanan ceritanya di Inggris.

Namun, situasi di Gaza membuatnya mempertimbangkan kembali arah cerita yang telah diselesaikannya. Ia merenungkan tanggung jawabnya sebagai penulis yang karyanya dibaca banyak kalangan, termasuk santri dan generasi muda.

“Kalau saya nggak menulis tentang Gaza, kalau besok bertemu sama Rasulullah, kalau saya ditanya … apa yang terjadi di Gaza seperti itu kok kamu nggak nulis tentang Gaza, itu apa alasanmu?” tuturnya saat menjelaskan pergulatan batin yang melatarbelakangi keputusan tersebut.

Perenungan itu akhirnya membuat Kang Abik menyimpan naskah berlatar Amerika Serikat dan memulai penulisan baru dengan Gaza sebagai latar utama.

“Bismillah saya bikin baru, Ayat-Ayat Cinta, settingnya di Gaza,” ungkapnya.

Keputusan tersebut menunjukkan bahwa sebuah karya sastra dapat berkembang bukan hanya berdasarkan pertimbangan estetika, melainkan juga sebagai respon terhadap realitas sosial dan kemanusiaan.

Misi Kemanusiaan Fahri dan Aisyah di Gaza

Dalam novel ini, Fahri digambarkan telah menjadi guru besar di Oxford University. Bersama Aisyah, ia menjalankan misi kemanusiaan di Gaza.

Kang Abik menjelaskan bahwa kehadiran Aisyah di Gaza bukanlah perubahan cerita yang muncul secara tiba-tiba. Latar belakang tokoh tersebut telah dibangun sejak novel-novel sebelumnya. Aisyah memiliki darah Palestina, Turki, dan Jerman. Dalam Ayat-Ayat Cinta 2, kisahnya juga berkaitan dengan pengalaman kehilangan dan penahanan oleh tentara Israel.

Untuk menghadirkan latar Gaza secara meyakinkan, Kang Abik melakukan riset mendalam meskipun belum pernah mengunjungi wilayah tersebut secara langsung. Ia menggali informasi melalui wawancara dengan Ustaz Muhammad Husein Gaza, yang telah tinggal di Gaza selama 12 tahun. Proses ini menjadi bagian penting dalam membangun detail cerita agar lebih dekat dengan realitas yang dialami masyarakat Palestina.

Melalui perpaduan kisah romansa, nilai-nilai tauhid, dan misi kemanusiaan, Kang Abik berupaya menghadirkan persoalan Palestina dalam narasi fiksi yang menggugah kepedulian pembaca.

Menyuarakan Palestina Melalui Karya

Kepedulian terhadap Palestina juga dapat diwujudkan melalui literasi dan karya tulis. Dalam kegiatan tersebut, peserta memperoleh informasi mengenai sayembara penulisan cerpen internasional bertema Palestina yang diselenggarakan Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam (LSBPI) Majelis Ulama Indonesia (MUI), dengan kategori bahasa Indonesia/Melayu, Arab, dan Inggris.

Kesempatan ini menjadi ajakan bagi santri untuk menuangkan keresahan dan kepedulian terhadap Palestina melalui karya sastra. Melalui tulisan, santri dapat ikut menyuarakan keadilan, menumbuhkan kesadaran kemanusiaan, dan menjaga agar kisah Palestina tetap terdengar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *