Meneladani Sifat Salat Rasulullah ﷺ (Bagian 1)

Artikel ini merupakan rangkuman materi Hari Belajar Guru (HBG) yang disampaikan oleh Ust. Drs. Saeful Hayat.

Salat bukan sekadar rutinitas harian atau kewajiban yang ditunaikan untuk menggugurkan tanggungan. Lebih dari itu, salat merupakan sarana mendekatkan diri kepada Allah, tempat seorang hamba bermunajat, sekaligus kesempatan untuk melatih hati agar senantiasa mengingat-Nya.

Namun, sudahkah kita melaksanakan salat dengan benar? Apakah kita hanya memperhatikan gerakan dan bacaannya, atau juga berusaha menghadirkan hati ketika menghadap Allah?

Pertanyaan ini penting untuk direnungkan. Sebab, kualitas salat tidak hanya berkaitan dengan ketepatan gerakan dan bacaan, tetapi juga dengan kesungguhan hati dalam beribadah.

Lima Tingkatan Manusia dalam Salat

Dalam kitab Al-Wabil ash-Shayyib, Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan lima tingkatan manusia dalam salat. Perbedaan tingkatan tersebut berkaitan dengan bagaimana seseorang menjaga ketentuan salat dan menghadirkan hati ketika beribadah kepada Allah.

Pertama, orang yang menzalimi diri sendiri dan melalaikan salat (Azh-Zhalim linafsihi al-Mufarrith).

Ini merupakan tingkatan terendah. Orang pada tingkatan ini tidak menjaga kesempurnaan salat, mulai dari wudu, waktu pelaksanaan, hingga ketentuan dan rukun-rukunnya. Salat dilaksanakan tanpa kesungguhan untuk memperbaiki kekurangan. Akibatnya, ibadah yang seharusnya menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah justru dikerjakan dengan penuh kelalaian.

Kedua, orang yang menjaga ketentuan lahiriah salat, tetapi lalai dalam menghadirkan hati (Al-Muhaasab).

Orang ini telah menjaga waktu salat, wudu, serta rukun dan ketentuan lahiriah salat. Namun, ia belum sungguh-sungguh melawan bisikan dan pikiran yang mengganggu konsentrasinya. Salatnya terjaga secara lahiriah, tetapi pikirannya masih sering melayang pada urusan duniawi.

Ketiga, orang yang berjuang melawan gangguan dalam salat (Al-Mukaffar ‘Anhu).

Ia menjaga ketentuan salat sekaligus berjuang melawan waswas dan pikiran yang mengganggu. Setiap kali kehilangan fokus, ia berusaha kembali mengingat Allah. Salatnya menjadi ruang perjuangan untuk menjaga hati agar tidak dikuasai gangguan yang mengalihkan perhatian dari ibadah.

Keempat, orang yang menyempurnakan salat dan memperoleh pahala (Al-Mutsab).

Orang ini menyempurnakan hak, rukun, dan ketentuan salat. Perhatiannya tertuju pada bagaimana salat dilaksanakan dengan baik dan sempurna. Ia tidak hanya menjaga gerakan dan bacaan, tetapi juga berusaha menghadirkan hati dalam setiap bagian salat.

Kelima, orang yang didekatkan kepada Allah (Al-Muqarrab).

Inilah tingkatan tertinggi. Ia melaksanakan salat dengan perhatian penuh kepada Allah, disertai kecintaan, pengagungan, dan kesadaran bahwa dirinya sedang menghadap-Nya. Gangguan dan bisikan yang mengalihkan perhatian semakin tersisih oleh kuatnya kehadiran hati. Keadaan ini mencerminkan semangat ihsan, yaitu beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya; dan jika tidak mampu mencapai keadaan itu, ia menyadari bahwa Allah senantiasa melihatnya.

Kelima tingkatan tersebut menjadi pengingat bahwa kualitas salat perlu terus diperbaiki. Kita tidak cukup hanya memastikan bahwa salat telah dilaksanakan, tetapi juga perlu menyempurnakan tata caranya dan melatih hati agar semakin khusyuk.

Meneladani Sifat Salat Rasulullah ﷺ

Salah satu cara memperbaiki kualitas salat adalah mempelajari dan meneladani tata cara salat Rasulullah ﷺ. Berikut beberapa tuntunan yang perlu diperhatikan.

  1. Persiapan Sebelum Salat

Sebelum memulai salat dengan takbiratul ihram, seseorang hendaknya menyempurnakan wudu dan menghadap kiblat. Keduanya merupakan bagian penting dari persiapan agar salat dilaksanakan sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ.

Beliau bersabda:

إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ، فَأَسْبِغِ الْوُضُوءَ، ثُمَّ اسْتَقْبِلِ الْقِبْلَةَ، فَكَبِّرْ…

Artinya: “Apabila engkau hendak melaksanakan salat, sempurnakanlah wudu, kemudian menghadaplah ke kiblat, lalu bertakbirlah….” (HR. al-Bukhari)

Hadis ini mengajarkan pentingnya mempersiapkan salat dengan benar, mulai dari bersuci hingga menghadap kiblat, sebelum memasuki rangkaian gerakan dan bacaan salat.

  1. Berdiri dan Meluruskan Saf

Salat fardu dilaksanakan dengan berdiri bagi orang yang mampu. Apabila seseorang tidak mampu berdiri karena uzur, ia dapat salat sambil duduk. Jika tidak mampu duduk, ia dapat salat dengan berbaring miring sesuai kemampuannya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

صَلِّ قَائِمًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ.

Artinya: “Salatlah sambil berdiri. Jika engkau tidak mampu, salatlah sambil duduk. Jika engkau tidak mampu, salatlah dengan berbaring miring.” (HR. al-Bukhari)

Dalam salat berjemaah, setiap jemaah juga perlu memperhatikan kelurusan dan kerapian saf.

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ فَإِنِّي أَرَاكُمْ مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِي.

Artinya: “Luruskanlah saf kalian, karena sesungguhnya aku dapat melihat kalian dari belakang punggungku.” (HR. al-Bukhari)

Dalam riwayat yang sama, disebutkan bahwa para sahabat merapatkan bahu dengan bahu dan kaki dengan kaki orang di sebelahnya.

Hadis ini menegaskan pentingnya meluruskan dan merapatkan saf. Karena itu, setiap jemaah hendaknya menjaga kerapian saf dengan mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ, tanpa berlebihan dalam merenggangkan kaki atau memaksakan kontak fisik.

  1. Menjaga Pandangan dan Menghindari Menoleh

Ketika salat, seorang muslim hendaknya menjaga pandangan dan menghindari gerakan menoleh tanpa keperluan. Mengangkat pandangan ke langit ketika salat merupakan perbuatan yang diperingatkan oleh Rasulullah ﷺ.

Beliau bersabda:

لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ يَرْفَعُونَ أَبْصَارَهُمْ إِلَى السَّمَاءِ فِي الصَّلَاةِ، أَوْ لَا تَرْجِعُ إِلَيْهِمْ.

Artinya: “Hendaklah orang-orang yang mengangkat pandangan mereka ke langit ketika salat berhenti dari perbuatan itu, atau penglihatan mereka tidak akan kembali kepada mereka.” (HR. Muslim)

Rasulullah ﷺ juga menjelaskan bahwa menoleh ketika salat merupakan gangguan yang dapat mengurangi kesempurnaan salat seorang hamba.

Ketika ditanya tentang menoleh dalam salat, beliau bersabda:

هُوَ اخْتِلَاسٌ يَخْتَلِسُهُ الشَّيْطَانُ مِنْ صَلَاةِ الْعَبْدِ.

Artinya: “Itu adalah curian yang dilakukan setan dari salat seorang hamba.” (HR. al-Bukhari)

Kedua hadis ini mengingatkan kita untuk menjaga fokus ketika salat. Hindari menoleh ke kanan atau kiri tanpa keperluan agar perhatian tetap tertuju kepada ibadah dan hati lebih mudah mencapai kekhusyukan.

  1. Mengangkat Kedua Tangan untuk Takbiratul Ihram

Ketika memulai salat dengan takbiratul ihram, Rasulullah ﷺ mengangkat kedua tangan. Sejumlah riwayat menjelaskan bahwa beliau mengangkat kedua tangan hingga sejajar dengan bahu, sedangkan riwayat lain menyebutkan hingga sejajar dengan telinga.

Dari Abdullah bin Umar r.a., diriwayatkan:

رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ افْتَتَحَ التَّكْبِيرَ فِي الصَّلَاةِ، فَرَفَعَ يَدَيْهِ حِينَ يُكَبِّرُ حَتَّى يَجْعَلَهُمَا حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ…

Artinya: “Aku melihat Nabi ﷺ memulai salat dengan takbir. Beliau mengangkat kedua tangannya ketika bertakbir hingga sejajar dengan kedua bahunya….” (HR. al-Bukhari)

Dalam riwayat Muslim, Ibnu Umar r.a. juga menjelaskan:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ لِلصَّلَاةِ، رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى تَكُونَا حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ، ثُمَّ كَبَّرَ…

Artinya: “Apabila Rasulullah ﷺ berdiri untuk salat, beliau mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua bahunya, kemudian bertakbir….” (HR. Muslim)

Adapun dalam riwayat dari Wail bin Hujr r.a., disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ mengangkat kedua tangan hingga sejajar dengan telinga ketika memulai salat. (HR. an-Nasa’i)

  1. Bersedekap dengan Tangan Kanan di Atas Tangan Kiri

Setelah takbiratul ihram, Rasulullah ﷺ meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri ketika berdiri dalam salat.

Dari Wail bin Hujr r.a., diriwayatkan:

قُلْتُ لَأَنْظُرَنَّ إِلَى صَلَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَيْفَ يُصَلِّي، فَنَظَرْتُ إِلَيْهِ … ثُمَّ وَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى كَفِّهِ الْيُسْرَى وَالرُّسْغِ وَالسَّاعِدِ…

Artinya: “Aku berkata, ‘Sungguh, aku akan memperhatikan bagaimana Rasulullah ﷺ melaksanakan salat.’ Lalu aku memperhatikan beliau… kemudian beliau meletakkan tangan kanannya di atas telapak tangan kiri, pergelangan tangan, dan lengan bawahnya….” (HR. an-Nasa’i)

  1. Membaca Doa Iftitah

Setelah takbiratul ihram dan bersedekap, Rasulullah ﷺ membaca doa iftitah sebelum membaca Al-Qur’an. Doa iftitah merupakan sunah yang dibaca pada awal salat. Terdapat beragam doa iftitah yang diriwayatkan dari Rasulullah ﷺ.

Keragaman ini memberi kesempatan untuk mengamalkan tanawwu‘, yaitu membaca doa iftitah yang berbeda pada kesempatan salat yang berbeda, selama doa tersebut bersumber dari riwayat yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dari Abu Hurairah r.a., diriwayatkan:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِذَا كَبَّرَ فِي الصَّلَاةِ، سَكَتَ هُنَيَّةً قَبْلَ أَنْ يَقْرَأَ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي، أَرَأَيْتَ سُكُوتَكَ بَيْنَ التَّكْبِيرِ وَالْقِرَاءَةِ، مَا تَقُولُ؟ قَالَ: أَقُولُ: اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ، كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ…

Artinya: “Apabila Rasulullah ﷺ bertakbir dalam salat, beliau terdiam sejenak sebelum membaca Al-Qur’an. Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apa yang engkau baca ketika terdiam antara takbir dan bacaan Al-Qur’an?’ Beliau menjawab, ‘Aku membaca: Ya Allah, jauhkanlah antara diriku dan kesalahan-kesalahanku sebagaimana Engkau menjauhkan timur dan barat….’” (HR. Muslim)

Doa iftitah mengandung permohonan kepada Allah agar seorang hamba dijauhkan dari dosa dan kesalahan. Membaca serta menghayati maknanya dapat membantu kita mengawali salat dengan kesadaran akan kebutuhan terhadap ampunan dan pertolongan Allah.

  1. Membaca Surah Al-Fatihah

Setelah membaca doa iftitah, Rasulullah ﷺ membaca Surah Al-Fatihah. Surah ini memiliki kedudukan penting dalam salat. Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ.

Artinya: “Tidak sah salat seseorang yang tidak membaca Fatihatul Kitab (Surah Al-Fatihah).” (HR. al-Bukhari)

Hadis ini menegaskan pentingnya membaca Surah Al-Fatihah dalam salat. Karena itu, bacalah setiap ayat dengan benar, tartil, dan tidak tergesa-gesa. Berusahalah pula memahami maknanya agar hati turut menyimak apa yang dilafalkan. Jangan sampai lisan membaca ayat demi ayat, sementara hati lalai dari bacaan tersebut.

  1. Membaca Surah atau Ayat Al-Qur’an Setelah Al-Fatihah

Setelah membaca Surah Al-Fatihah, Rasulullah ﷺ membaca surah lain pada salat. Dalam riwayat berikut, dijelaskan pula bahwa beliau membaca Al-Fatihah pada dua rakaat terakhir dan memanjangkan bacaan pada rakaat pertama dibandingkan rakaat kedua pada salat Dzuhur.

Dari Abu Qatadah r.a., diriwayatkan:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْرَأُ فِي الظُّهْرِ فِي الْأُولَيَيْنِ بِأُمِّ الْكِتَابِ وَسُورَتَيْنِ، وَفِي الرَّكْعَتَيْنِ الْأُخْرَيَيْنِ بِأُمِّ الْكِتَابِ، وَيُسْمِعُنَا الْآيَةَ، وَيُطَوِّلُ فِي الرَّكْعَةِ الْأُولَى مَا لَا يُطَوِّلُ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ، وَهَكَذَا فِي الْعَصْرِ، وَهَكَذَا فِي الصُّبْحِ.

Artinya: “Nabi ﷺ membaca Surah Al-Fatihah dan dua surah pada dua rakaat pertama salat Zuhur, sedangkan pada dua rakaat terakhir beliau membaca Surah Al-Fatihah. Beliau terkadang memperdengarkan satu ayat kepada kami. Beliau memanjangkan bacaan pada rakaat pertama melebihi rakaat kedua. Demikian pula yang beliau lakukan dalam salat Asar dan Subuh.” (HR. al-Bukhari)

Dalam hadis tentang tata cara salat, Rasulullah ﷺ juga mengajarkan agar seseorang membaca ayat Al-Qur’an yang mudah baginya:

وَاقْرَأْ بِمَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ.

Artinya: “Bacalah ayat Al-Qur’an yang mudah bagimu.” (HR. al-Bukhari)

Hadis tersebut menjadi pengingat agar bacaan dilakukan sesuai kemampuan, dengan tetap memperhatikan ketepatan pelafalan. Panjang bacaan bukan satu-satunya ukuran kualitas salat. Yang tidak kalah penting ialah membaca dengan benar, tenang, dan berusaha menghayati maknanya.

Menyempurnakan Salat, Menghadirkan Hati

Meneladani salat Rasulullah ﷺ bukan sekadar meniru gerakan dan bacaan secara lahiriah. Kita juga perlu berusaha memahami maknanya, menjaga ketenangan, dan menghadirkan hati ketika menghadap Allah.

Perbaikan salat merupakan proses yang perlu dilakukan terus-menerus. Dimulai dari menyempurnakan persiapan, memperhatikan gerakan dan bacaan, hingga melatih hati agar tidak mudah lalai.

Dengan demikian, salat tidak berhenti sebagai kewajiban yang ditunaikan, tetapi menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memperbaiki kualitas kehidupan seorang muslim.

Bersambung


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *