Adab, Doa, dan Rida Orang Tua: Bekal Terbaik Santri Menyongsong Garis Akhir Pendidikan
GARUT — Lantunan ayat suci Al-Qur’an Surah Luqman mengawali Sosialisasi Kegiatan Akhir Kelas XII MA Persis Tarogong yang diselenggarakan di Aula Syihabuddin, pada Sabtu, 1 Agustus 2026. Ayat-ayat yang sarat dengan pesan tentang adab, rasa syukur, dan bakti kepada orang tua itu seolah menjadi pengingat bahwa perjalanan pendidikan tidak hanya bertumpu pada capaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter.
Dalam suasana yang hangat dan penuh kekeluargaan, PMA Bidang Pendidikan, Komite MA Persis Tarogong, jajaran pimpinan madrasah, para wali kelas, serta orang tua santri Kelas XII Angkatan ke-42 berkumpul untuk menyamakan langkah. Pertemuan tersebut bukan sekadar membahas rangkaian agenda akhir tahun, melainkan membangun komitmen bersama dalam mendampingi para santri menyelesaikan pendidikan di jenjang madrasah sekaligus mempersiapkan masa depan mereka.
Mudir Mu’allimin/MA Persis Tarogong, Ustadz H. Aan Adam, Lc., menegaskan bahwa tujuan utama pendidikan di pesantren bukan hanya menghasilkan lulusan yang cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki adab dan akhlakul karimah. Menurutnya, karakter yang kuat menjadi fondasi utama sebelum santri melanjutkan pendidikan tinggi maupun terjun ke tengah masyarakat.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui berbagai program yang telah disiapkan sepanjang tahun terakhir. Selain pemadatan pembelajaran, santri akan mengikuti penyusunan Karya Tulis Ilmiah Santri, pembinaan kepemimpinan melalui Latihan Khidmat Jam’iyyah, hingga Program Bina Karir yang dirancang untuk membantu santri menentukan arah studi dan profesi sesuai potensi yang dimiliki.
Capaian Angkatan ke-41 menjadi bukti bahwa ikhtiar tersebut membuahkan hasil. Sebanyak 71 persen santri berhasil melanjutkan pendidikan ke berbagai perguruan tinggi negeri maupun swasta terkemuka. Tidak sedikit pula yang memperoleh beasiswa, seperti Beasiswa Indonesia Bangkit dan Beasiswa Santri Berprestasi. Prestasi tersebut menjadi motivasi bagi Angkatan ke-42 untuk terus berikhtiar meraih cita-cita.
Koordinator Bina Karir MA Persis Tarogong, Ibu Winda Aprilia, S.Pd., menekankan bahwa setiap santri memiliki potensi yang berbeda sehingga perlu didampingi untuk menemukan jalan terbaiknya.
“Tugas kita sebagai orang tua ataupun pendidik bukanlah menjadikan mereka sesuai dengan keinginan kita, melainkan membantu mereka mengembangkan potensi terbaik yang telah Allah titipkan kepada diri mereka masing-masing,” ujarnya.
Melalui Program Bina Karir, madrasah tidak hanya mempersiapkan santri menghadapi seleksi masuk perguruan tinggi, tetapi juga membuka akses terhadap berbagai informasi beasiswa, seperti KIP Kuliah, Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB), Beasiswa Garuda, BAZNAS, BSI Pelajar, hingga Beasiswa Perintis.
Namun, keberhasilan pendidikan tidak dapat dibangun oleh madrasah seorang diri. Ketua Komite MA Persis Tarogong, Ir. Wawan Kurnia, mengingatkan bahwa dukungan orang tua menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan santri, terutama pada tahun terakhir yang penuh tantangan.
“Keberhasilan seorang anak juga dipengaruhi oleh dukungan emosional dari rumah. Jadikan rumah sebagai tempat yang aman dan menenangkan. Percayalah bahwa ikhtiar yang disertai doa serta rida orang tua merupakan kunci kemudahan bagi perjalanan anak-anak kita,” tuturnya.
Senada dengan hal tersebut, Ustadz Heri Mulyadi, S.H.I., M.Pd., yang mewakili pimpinan pesantren, menegaskan bahwa Persis Tarogong mengusung prinsip Community Based Education atau pendidikan berbasis masyarakat. Menurutnya, kolaborasi antara pesantren, keluarga, dan masyarakat merupakan kekuatan utama dalam melahirkan generasi yang memiliki kedalaman ilmu agama (tafaqquh fiddin), berkarakter, sekaligus mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.
Bagi MA Persis Tarogong, perjalanan Kelas XII bukanlah sekadar fase menuju kelulusan. Tahun terakhir menjadi proses mempersiapkan santri menghadapi kehidupan yang lebih luas, baik sebagai mahasiswa, pemimpin, maupun anggota masyarakat yang siap memberi manfaat.
Melalui sinergi antara pesantren dan orang tua, setiap program yang dijalankan diharapkan menjadi bekal bagi santri Angkatan ke-42 untuk menuntaskan perjalanan mereka di madrasah dengan sebaik-baiknya, sekaligus melangkah mantap menuju masa depan yang gemilang dan penuh keberkahan. Sebab, garis akhir di bangku madrasah sejatinya adalah garis awal bagi lahirnya generasi yang siap berkarya, mengabdi, dan memberi manfaat bagi umat.

