Jangan Cuma Memilihkan, tapi Kenali dan Arahkan: MA Persis Tarogong Ajak Wali Santri Pahami Potensi Anak
Garut, 12 September 2026 — Memasuki jenjang Madrasah Aliyah menjadi fase penting bagi santri kelas X. Bukan hanya untuk beradaptasi dengan lingkungan dan tuntutan belajar yang baru, tetapi juga mulai mengenali potensi, menentukan arah pendidikan, dan mempersiapkan masa depan.
Pesan tersebut mengemuka dalam Silaturahmi dan Sosialisasi Wali Santri Kelas X MA Persis Tarogong di Aula Syihabuddin, Pesantren Persis Tarogong, Sabtu (12/9/2026). Mengusung tema “Sinergi Mengawal Transisi, Bersama Mengembangkan Potensi dan Membangun Prestasi”, kegiatan ini menjadi ruang bagi madrasah dan orang tua untuk menyamakan langkah dalam mendampingi santri.
Kenali Potensi Sebelum Menentukan Arah
Guru Bimbingan dan Konseling (BK) MA Persis Tarogong, Usth. Destia Khoirunnisa, S.Pd., menjelaskan bahwa potensi santri tidak dapat ditentukan hanya dari satu ukuran.
Dalam menentukan kelompok mata pelajaran, madrasah mempertimbangkan berbagai data, mulai dari pengalaman dan observasi, capaian akademik, minat dan aspirasi santri, hingga hasil asesmen psikologis.
Hasil psikotes, menurutnya, merupakan data pendukung, bukan penentu masa depan santri. IQ, bakat, minat, dan karakter yang tergambar dari asesmen perlu dibaca secara utuh dan dikombinasikan dengan data lainnya.
Proses penempatan kelompok mata pelajaran pun dilakukan secara bertahap, mulai dari sosialisasi dan survei minat, pengolahan data, penempatan sementara, konsultasi, hingga penetapan akhir dengan mempertimbangkan nilai akademik, minat, rekomendasi psikotes, dan kuota.
Jangan Sekadar Memilihkan
Di sinilah peran orang tua menjadi penting. Usth. Destia mengajak wali santri untuk tidak hanya menentukan pilihan, tetapi mengenali, mendengarkan, mengeksplorasi, mendampingi, dan mendukung potensi anak. Pilihan jurusan tidak seharusnya lahir dari anggapan bahwa satu kelompok mata pelajaran lebih unggul daripada yang lain. IPA, IPS, maupun IAI memiliki jalur pengembangan dan prospek masing-masing.
“Yang terpenting bukan memilih kelompok yang dianggap paling baik, tetapi memastikan pilihan tersebut sesuai dengan potensi dan arah santri.”
Alumni Membuktikan Jurusan Bukan Batas
Pesan tersebut diperkuat oleh pengalaman Sabrina Fajria Hanifah, alumni MA Persis Tarogong Angkatan 39 dari kelompok IAI yang kini menempuh pendidikan di Program Studi Sastra Arab Universitas Padjadjaran.
Sabrina memilih IAI untuk memperdalam ilmu keislaman sekaligus melanjutkan target hafalan Al-Qur’an dari 15 juz hingga 30 juz. Target tersebut akhirnya tercapai pada akhir 2023 melalui tasmi’ 30 juz, yang kemudian mendapat apresiasi sekolah berupa kesempatan umrah.
Di bidang akademik, Sabrina juga tiga tahun berturut-turut menjadi Juara Umum Paralel kelompok IAI. Ia kemudian diterima di Universitas Padjadjaran melalui jalur SNBP dan juga pernah diterima di UIN Jakarta pada program Dirasat Islamiyah melalui jalur rapor.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pilihan IAI bukan batas untuk berprestasi maupun melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Bagi Sabrina, perbedaan setiap santri bukan terletak pada kelompok mata pelajarannya, tetapi pada apakah mereka tahu arah yang ingin dituju dan bersungguh-sungguh dalam menjalaninya.
Ia membagikan tiga langkah sederhana kepada santri kelas X: kenali diri sendiri, tentukan arah, dan jalani dengan sungguh-sungguh.
Semua Bagian dari Satu Proses
Pembahasan potensi dan arah pendidikan tersebut menjadi bagian dari rangkaian sosialisasi yang saling melengkapi. Ust. Yasir Nurdin, S.Pd.I. menyampaikan kebijakan kurikulum dan kelompok mata pelajaran. Ust. Trisna Adiyana, S.Pd. menjelaskan tata tertib serta program kesiswaan kelas X, termasuk Mukhoyyam Tarbawi dan Du’at Camp. Sementara Ust. Dindin Mujahidin, S.E. mengenalkan penggunaan SIAP serta mekanisme layanan administrasi dan pengaduan.
Dalam sambutannya, perwakilan Komite MA Persis Tarogong, Ust. Pahad Nurdiansyah, S.Th.I., M.Pd.I., menegaskan pentingnya sinergi antara lembaga, komite, dan orang tua dalam mendampingi pendidikan santri. Adapun Kepala MA Persis Tarogong, Ust. H. Aan Adam, Lc., mengibaratkan kelas X sebagai masa menanam benih yang perlu diisi dengan penguatan niat, karakter, kedisiplinan, dan fondasi belajar.
Sementara PMA Bidang Pendidikan Pesantren Persis Tarogong, Ustaz Heri Mulyadi, S.H.I., M.Pd., menekankan bahwa pendidikan membutuhkan kolaborasi. Madrasah, pesantren, orang tua, dan lingkungan sosial perlu bergerak bersama dalam membentuk santri.
Dari Kelas X, Menentukan Arah
Silaturahmi ini pada akhirnya bukan sekadar forum untuk menyampaikan informasi tentang sekolah atau memilih kelompok mata pelajaran. Lebih dari itu, kegiatan ini mengajak orang tua melihat kelas X sebagai titik awal untuk mengenali potensi dan menentukan arah pendidikan santri.
“Jangan hanya memilihkan. Kenali potensinya, arahkan jalannya, lalu dampingi prosesnya.”
Sebab, masa depan santri tidak dibangun oleh satu pihak. Madrasah memberikan arah, pesantren membentuk karakter, orang tua mendampingi, dan santri menjalani prosesnya dengan sungguh-sungguh.

