Bukan Dipilihkan, Tapi Didampingi: Menyiapkan Masa Depan Santri Sejak Kelas XI
GARUT — Menentukan arah pendidikan dan karier bukan sekadar memilihkan jurusan, melainkan proses mendampingi santri untuk mengenali diri, memahami potensi, dan menentukan arah masa depannya. Pesan tersebut menjadi fokus utama dalam kegiatan Edukasi dan Sosialisasi Wali Santri Kelas XI MA Persis Tarogong yang digelar di Aula Syihabuddin, Sabtu (15/8/2026).
Mengusung tema “Peta Jalan Masa Depan: Kenali Potensi, Rancang Cita-Cita Sejak Dini,” kegiatan ini menitikberatkan pada upaya menyelaraskan harapan orang tua dengan potensi yang dimiliki santri.
Sebagai narasumber utama, Dra. Nurlela, M.Sc. PIC menyampaikan materi bertajuk “Titik Temu Cita dan Cinta: Menyelaraskan Harapan Orang Tua, Potensi Santri, dan Pendidikan Sekolah.” Dalam pemaparannya, ia mengajak orang tua mengubah pola pendampingan yang terlalu cepat menentukan jurusan atau perguruan tinggi tanpa terlebih dahulu mengenali karakter dan potensi anak.
Nurlela menegaskan, ketika santri masih bingung menentukan masa depan, orang tua tidak perlu terburu-buru mengambil alih keputusan atau mendikte pilihan tertentu.
“Dengarkan terlebih dahulu, tanyakan apa yang ia sukai, kemudian dampingi prosesnya,” pesan Nurlela kepada para wali santri.
Menurutnya, kebingungan dalam menentukan masa depan merupakan hal yang wajar. Kondisi tersebut dapat muncul karena santri belum mengenal dirinya, belum memahami pilihan yang tersedia, menghadapi terlalu banyak pilihan, atau merasa takut mengecewakan orang tua.
Mengenali Santri melalui Pendekatan 5P
Sebagai kerangka untuk membantu orang tua memahami anak secara lebih utuh, Nurlela memperkenalkan pendekatan 5P, yaitu Potential (Kekuatan, Kelebihan), Passion (Minat), Personality (Karakter), Purpose (Tujuan), dan Prospect (Peluang).
Potensial berkaitan dengan kemampuan yang relatif menonjol dalam diri santri. Passion membantu menggali hal-hal yang benar-benar diminati, sedangkan personality berkaitan dengan karakter serta kecenderungan pola kerja santri.
Sementara itu, purpose mengarahkan santri untuk memahami nilai dan tujuan hidup yang ingin dicapai. Bagi keluarga Muslim, orientasi pendidikan dan karier tidak semata-mata mengejar gelar, jabatan, atau materi, tetapi juga harus memiliki kebermaknaan bagi kehidupan dunia dan akhirat.
Adapun prospect mengajak santri dan orang tua melihat pilihan secara realistis, termasuk persyaratan akademik, mata pelajaran pendukung, biaya, lokasi, peluang masuk perguruan tinggi, hingga prospek dunia kerja.
Melalui pendekatan 5P, pilihan pendidikan dan karier diharapkan menjadi titik temu antara potensi, minat, karakter, tujuan hidup, dan realitas peluang.
Kelas XI sebagai Fase Persiapan
Pemaparan tersebut sejalan dengan program MA Persis Tarogong yang menempatkan kelas XI sebagai fase penting dalam mempersiapkan masa depan santri. Melalui program Bimbingan dan Konseling (BK), santri mulai diarahkan melakukan pemetaan karier dan target perguruan tinggi sejak dini, sekaligus menjaga konsistensi perkembangan akademik.
Sementara melalui program kesantrian, santri memperoleh ruang untuk mengembangkan karakter, kepemimpinan, dan wawasan melalui berbagai kegiatan.
Kepala MA Persis Tarogong, H. Aan Adam, Lc., juga menekankan pentingnya menjaga motivasi santri pada fase tersebut. Salah satu bentuk keterlibatan orang tua yang diperkenalkan ialah program “Surat Cinta”, yang memberikan ruang bagi orang tua menyampaikan pesan, doa, dan harapan kepada anak.
Ketua Komite MA Persis Tarogong, Ir. Wawan Kurnia, turut menekankan pentingnya keterhubungan antara keluarga dan madrasah dalam mendampingi pendidikan santri.
“Hati kita harus terpaut, karena ini menyangkut keberhasilan pendidikan anak-anak kita ke depan.”
Sementara itu, Heri Mulyadi, S.HI., M.Pd.I., dari Pimpinan Pesantren Persis Tarogong, mengingatkan bahwa seluruh potensi dan keunggulan santri harus selalu dibingkai dengan pembinaan karakter dan akhlak agar para santri terhindar dari krisis adab di era modern.
Potensi Santri Ditampilkan
Pesan tentang pentingnya mengenali dan mengembangkan potensi santri juga tergambar dalam rangkaian penampilan santri. Kegiatan diisi dengan storytelling oleh Naura Lathifah Qurratu’ain, pidato bahasa Arab oleh Ahsan Cahaya Irfani, penampilan vokal oleh Muhammad Kanz Jazil Ramadhan dan Arsya Fauzan, serta tilawah Al-Qur’an oleh Lutfan Sakhi Azzaidan, Muhammad Hafidz Rizky Firdaus, dan Muhammad Abduh Hanif.
Beragam penampilan tersebut menjadi gambaran bahwa setiap santri memiliki potensi yang berbeda dan membutuhkan ruang untuk dikenali, dikembangkan, dan diarahkan.
Melalui kegiatan ini, MA Persis Tarogong menegaskan pentingnya memulai persiapan masa depan sejak kelas XI. Bukan untuk menentukan jalan yang harus ditempuh santri, tetapi mendampingi mereka mengenali diri, menemukan potensi, mempertimbangkan peluang, dan secara bertahap menentukan arah pendidikan serta kariernya.

