Dari Tegang hingga “Plong”: Cerita Santri Kelas XII MA Persis Tarogong Jalani Sidang Kartul
Garut — Sebanyak 297 santri kelas XII Angkatan 42 MA Persis Tarogong telah melewati salah satu tahapan penting dalam penyelesaian pendidikan mereka, yaitu Sidang Karya Tulis Ilmiah (Kartul), yang dilaksanakan pada Sabtu, 19 September 2026.
Karya tulis ilmiah menjadi salah satu bentuk tugas akademik yang menuntut santri untuk menyajikan fakta secara objektif, menyusunnya secara logis, serta menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan baku.
Bagi para santri, proses menuju sidang tidak hanya menjadi perjalanan akademik, tetapi juga menghadirkan beragam pengalaman dan emosi. Dalam proses pengerjaannya, sebagian santri mengaku harus menyelesaikan Kartul dalam waktu sekitar satu hingga satu setengah bulan. Sementara itu, persiapan menjelang sidang bagi sebagian santri berlangsung cukup singkat, sekitar dua hingga empat hari.
Tak heran, suasana menjelang persidangan pun dipenuhi ketegangan. Rasa gugup, nervous, hingga stres mewarnai persiapan mereka. Bahkan, seorang santri mengungkapkan bahwa suasana di ruang sidang sempat terasa “chaos” hingga membuatnya berkeringat karena panik. Namun, semua rasa tegang itu perlahan hilang setelah satu per satu santri berhasil keluar dari ruang sidang.
“Plong” menjadi ungkapan yang paling banyak menggambarkan perasaan mereka setelah menyelesaikan persidangan. Meski masih terdapat beberapa revisi yang harus diselesaikan, banyak santri menilai sidang berjalan lancar.
Sebagian santri bahkan menyadari bahwa suasana persidangan ternyata tidak semenakutkan yang mereka bayangkan. Interaksi dengan dewan penguji pun dapat berlangsung cair sehingga rasa tegang yang sebelumnya muncul perlahan berkurang.
Bagi para santri, kelancaran tersebut juga tidak terlepas dari doa dan dukungan orang tua yang terus menyertai selama proses penyusunan hingga pelaksanaan sidang.
Pesan untuk Adik Kelas
Dari berbagai pengalaman yang mereka rasakan, para santri kelas XII menitipkan sejumlah pesan bagi adik-adik kelas yang kelak akan menghadapi Sidang Kartul.
Pertama, rajin bimbingan. Jangan menunda pengerjaan dan manfaatkan waktu senggang untuk menyicil Kartul agar beban tidak menumpuk menjelang sidang.
Kedua, berani berbicara. Rasa gugup merupakan hal yang wajar. Karena itu, tetap percaya diri dan berlatih menyampaikan hasil karya di depan orang lain.
Ketiga, pilih topik dengan sumber yang mudah diakses. Referensi menjadi bagian penting dalam penyusunan karya tulis. Karena itu, pastikan sumber yang dibutuhkan tersedia dan mudah ditemukan.
Keempat, pilih topik yang diminati. Mengambil tema yang sesuai dengan hobi atau minat dapat membuat proses pengerjaan terasa lebih menyenangkan.
Kelima, perkuat referensi dan latar belakang. Sebelum menentukan rumusan masalah dan menyusun pembahasan, pastikan terlebih dahulu bahwa referensi yang diperlukan benar-benar tersedia dan relevan.
Pada akhirnya, Sidang Karya Tulis Ilmiah bukan sekadar tahapan akademik. Bagi 297 santri, pengalaman sidang menjadi perjalanan yang mempertemukan rasa gugup, perjuangan, keberanian, hingga kelegaan.
Dari tegang sebelum masuk ruang sidang, hingga “plong” setelah berhasil melewatinya, semuanya menjadi bagian dari pengalaman belajar yang akan dikenang sebelum mereka menamatkan pendidikan di MA Persis Tarogong.

