LDK: Bukan Sekadar Belajar, tetapi Proses Menemukan Kesiapan untuk Menerima Estafet Kepemimpinan
Garut — Setiap kepemimpinan pada akhirnya akan sampai pada masa untuk berpindah tangan. Sebuah organisasi tidak dapat terus bergantung pada orang yang sama; akan selalu ada generasi yang melanjutkan, meneruskan visi, sekaligus membawa organisasi menghadapi tantangan yang berbeda pada masanya. Karena itu, estafet kepemimpinan bukan sekadar pergantian posisi, tetapi proses memastikan keberlanjutan perjuangan dan nilai yang telah dibangun.
Namun, estafet tidak cukup hanya dengan menentukan siapa yang akan menggantikan. Mereka yang menerima tongkat kepemimpinan perlu dipersiapkan agar memiliki keberanian untuk mengambil keputusan, kemampuan bekerja bersama, kesiapan menghadapi persoalan, serta kesadaran bahwa kepemimpinan adalah sebuah amanah.
Di sinilah Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) 2026 mengambil peran. Di MA Persis Tarogong, LDK menjadi ruang bagi perwakilan santri kelas XI untuk belajar sekaligus menemukan kesiapan mereka dalam melanjutkan estafet kepemimpinan organisasi santri, baik Rijalul Ghad Mu’allimin (RGM) maupun Ummahatul Ghad Mu’allimin (UGM).
LDK RGM yang mengusung tema “Leadership Quest” berlangsung pada 25–26 September 2026. Kegiatan ini diarahkan untuk menumbuhkan jiwa kepemimpinan, membangun kesadaran akan pentingnya kepemimpinan, sekaligus menjadi salah satu acuan dalam menyiapkan calon ketua dan tasykil RGM pada masa jihad berikutnya.
Sementara itu, LDK UGM yang berlangsung pada 2–3 Oktober 2026 membawa tema “Dare to Lead, Lead to Inspire, Inspire to Impact.” Sebanyak 39 peserta mengikuti rangkaian kegiatan yang dirancang untuk melihat kesiapan mereka menjadi bagian dari kepengurusan UGM, dengan 25 peserta nantinya melanjutkan perjalanan sebagai bagian dari UGM.
Jika RGM mengajak peserta memahami bagaimana seorang pemimpin berpikir dan bekerja, UGM membawa peserta pada pengalaman untuk membuktikan bagaimana nilai-nilai tersebut diterapkan dalam situasi nyata. Keduanya memiliki pendekatan yang berbeda, tetapi berada dalam satu tujuan: mempersiapkan generasi yang akan menerima estafet kepemimpinan.
Dalam LDK RGM, pemahaman kepemimpinan dibangun melalui materi yang disampaikan Muhammad Rafa Al Qowwam. Peserta diajak memahami organisasi sebagai sebuah sistem yang terdiri atas input, transform, dan output, sekaligus menghadapi tantangan zaman yang dikenal dengan istilah VUCA.
VUCA merupakan gambaran dunia yang Volatile, Uncertain, Complex, dan Ambiguous—perubahan yang cepat, kondisi yang sulit diprediksi, persoalan yang saling berkaitan, serta situasi yang tidak selalu memiliki jawaban yang jelas. Dalam konteks organisasi, kondisi semacam ini menuntut seorang pemimpin tidak mudah panik ketika rencana berubah, mampu membaca keadaan, serta cepat menyesuaikan strategi.
Karena itu, peserta juga diperkenalkan pada pendekatan VUCA 2.0: Vision, Understanding, Clarity, dan Agility. Seorang pemimpin perlu memiliki visi tentang tujuan yang hendak dicapai, memahami kondisi dan orang-orang yang dipimpinnya, mampu memberikan arah yang jelas, serta lincah beradaptasi ketika menghadapi perubahan. Dengan bekal tersebut, kepemimpinan tidak hanya berbicara tentang memberikan instruksi, tetapi juga tentang kemampuan membawa tim tetap bergerak menuju tujuan di tengah ketidakpastian.
Materi pun tidak berhenti pada tataran teori. Peserta kemudian dihadapkan pada tantangan mini project. Mereka dituntut untuk merancang sebuah kegiatan, menyusun proposal dan surat-menyurat, mencari pemateri, hingga melakukan fundrising dan sponsorship. Pada sesi ini, panitia bermain peran sebagai stakeholder, pemateri, dan sponsor.
Tantangan tersebut berlangsung hingga dini hari. Setelah Subuh dan tilawah jama’i, peserta harus mengimplementasikan konsep yang telah mereka susun. Dari sini, mereka belajar bahwa memimpin berarti mampu membawa gagasan melewati proses panjang hingga menjadi sebuah aksi.
Pesan yang sama diperluas melalui materi Kesadaran Sosial dalam Organisasi yang disampaikan Shiddiq Abdusy Syakur dari Rumah Amal Salman Garut. Kepemimpinan tidak cukup menghasilkan pencapaian internal organisasi, tetapi juga harus mampu menghadirkan manfaat nyata bagi lingkungan dan masyarakat.
Di sisi lain, LDK UGM menghadirkan bentuk pengujian yang berbeda. Melalui materi komunikasi bersama Hawa Hafifah, peserta belajar menghadapi salah satu persoalan yang kerap muncul dalam organisasi: miskomunikasi. Keterbukaan, kemampuan mendengarkan, dan kebiasaan melakukan klarifikasi menjadi bagian penting agar kerja sama tetap berjalan.
Materi administrasi dan dokumentasi bersama Rahayu Agustina juga menegaskan bahwa keberlangsungan organisasi tidak hanya ditentukan oleh ide besar, tetapi juga oleh hal-hal yang sering dianggap sederhana: pencatatan rapat, pengelolaan arsip, dan tata kelola dokumen.
Kemampuan peserta kemudian diuji melalui Mind Maze dan Pos to Pos. Dalam Mind Maze, mereka ditantang menemukan tujuan melalui berbagai petunjuk sekaligus menjaga amanah dan kekompakan tim. Sementara Pos to Pos menjadi ruang untuk melihat kemampuan peserta pada berbagai bidang garapan UGM sekaligus memetakan kesiapan mereka menjadi bagian dari organisasi.
Ketua Pelaksana LDK UGM, Fauziah Qurota Aini, dalam sambutannya berharap bahwa dari LDK lahir pemimpin yang berani mengambil langkah, menjadi inspirasi melalui keteladanan, dan memastikan inspirasi tersebut melahirkan perubahan positif yang nyata.
Senada Fauziah, Muhammad Mukti Muttaqin, Ketua Pelaksana LDK RGM bertutur bahwa tujuan dari LDK ialah memahami kepemimpinan serta mempersiapkan diri untuk menghadapi berbagai tantangan di masa depan, baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah.
Sementara Ketua UGM masa jihad 2025/2026, Shabria Putri R, mengingatkan bahwa LDK bukanlah tujuan akhir.
Kegiatan ini menjadi ruang untuk melihat kemauan bertumbuh, tanggung jawab, dan kesiapan menerima amanah. Tambahnya.
Pesan tentang visi dan kepemimpinan juga kembali ditegaskan Kepala MA Persis Tarogong, H. Aan Adam, Lc. Mengibaratkan perjalanan klub Como yang mampu naik dari Serie B ke Serie A, karena memiliki pemimpin yang tepat dan visi yang jelas. Dalam organisasi, visi adalah “gawang” yang harus dituju bersama. Lebih jauh, Ust. Aan menekankan bahwa:
Pentingnya kepemimpinan yang mengarahkan tim, kerja sama solid antar anggota, kedisiplinan dalam mengeksekusi strategi, serta ketahanan mental untuk tetap fokus dan pantang menyerah hingga akhir.
Pada akhirnya, LDK 2026 bukan tentang siapa yang paling pandai berbicara atau siapa yang paling menonjol selama kegiatan. Lebih dari itu, LDK menjadi ruang untuk melihat siapa yang berani melangkah, mampu bekerja bersama, siap menghadapi tantangan, dan bersedia menjaga amanah. Sebab estafet kepemimpinan tidak cukup hanya diberikan kepada generasi berikutnya. Ia harus diterima oleh mereka yang telah siap menjalankannya.

